Social Stigma and Family Identity Construction in Pulang Balee Marriage among Acehnese Society: A Legal Anthropology Perspective

Authors

  • Mansari Mansari Universitas Iskandar Muda
  • Zahrul Fatahillah Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Nahdlatul Ulama Aceh

DOI:

https://doi.org/10.70742/ahlika.v3i1.599

Keywords:

Pulang Balee, Social Stigma, Family Identity

Abstract

Pulang balee marriage remains a customary marital practice among Acehnese society, referring to a marriage between a person and his or her former in-law following the death or divorce of the previous spouse. This practice is commonly regarded as a social mechanism for preserving kinship continuity and ensuring the care of children; however, it may also give rise to social stigma within the community. These circumstances raise important questions regarding how pulang balee marriage is understood within the framework of customary norms and how the identities of families involved in such marriages are constructed and negotiated in social life. Although pulang balee has long been recognized as part of Acehnese customary practice, scholarly attention to family identity construction and the dynamics of social stigma surrounding this marriage practice remains limited, particularly from the perspective of legal anthropology. This study aims to examine pulang balee marriage in relation to family identity construction and the strategies adopted by families to cope with social stigma. The research employs an empirical legal approach using a legal anthropology perspective. Data were analyzed descriptively and analytically by examining the social practices that exist within the community. The findings reveal that pulang balee marriage serves to preserve kinship continuity, maintain family stability, and ensure the continuity of child care following the death of a spouse. Although the practice does not automatically generate social stigma, differing public perceptions of customary norms and moral values may lead to particular social judgments. The identities of families engaged in pulang balee marriages are constructed through an ongoing process of negotiation among customary values, community perceptions, and lived family experiences. Families adopt various strategies to gain social acceptance by reaffirming customary values, promoting narratives centered on child protection, and strengthening their participation in community life. This study contributes to the development of legal anthropology by demonstrating that family identity in pulang balee marriages is not statically determined by customary norms but is dynamically negotiated through the interaction between living law, cultural values, and social perceptions.

[Perkawinan pulang balee merupakan praktik perkawinan yang masih ditemukan dalam masyarakat Aceh, yaitu perkawinan antara seseorang dengan iparnya setelah terjadi kematian atau perceraian pasangan sebelumnya. Praktik ini sering dipandang sebagai mekanisme sosial untuk menjaga keberlanjutan hubungan kekerabatan dan pengasuhan anak, namun di sisi lain tidak jarang memunculkan stigma sosial dalam masyarakat. Kondisi tersebut menimbulkan persoalan mengenai bagaimana praktik pulang balee dipahami dalam kerangka norma adat, serta bagaimana identitas keluarga yang menjalani perkawinan tersebut dibentuk dan dinegosiasikan dalam kehidupan sosial. Meskipun telah menjadi bagian dari praktik adat yang hidup dalam masyarakat Aceh, kajian mengenai konstruksi identitas keluarga dan dinamika stigma sosial dalam perkawinan pulang balee masih relatif terbatas, khususnya dari perspektif antropologi hukum. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik perkawinan pulang balee dalam kaitannya dengan konstruksi identitas keluarga dan strategi menghadapi stigma masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum empiris dengan pendekatan antropologi hukum. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan analitis dengan menelaah praktik sosial yang berkembang dalam masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik perkawinan pulang balee dalam masyarakat Aceh berfungsi menjaga keberlanjutan hubungan kekerabatan, stabilitas keluarga, serta keberlangsungan pengasuhan anak setelah kematian pasangan. Praktik ini tidak selalu menimbulkan stigma sosial secara langsung, namun perbedaan persepsi masyarakat terhadap norma adat dan nilai moral dapat memunculkan penilaian tertentu dalam lingkungan sosial. Identitas keluarga yang menjalani perkawinan pulang balee terbentuk melalui proses negosiasi antara nilai adat, persepsi masyarakat, dan pengalaman keluarga. Keluarga mengembangkan berbagai strategi dalam rangka memperoleh penerimaan sosial dengan menegaskan nilai adat, membangun narasi perlindungan anak, serta memperkuat partisipasi dalam kehidupan sosial masyarakat. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pengembangan kajian antropologi hukum dengan menunjukkan bahwa identitas keluarga dalam praktik pulang balee tidak dibentuk secara statis oleh norma adat, melainkan melalui proses negosiasi yang dinamis antara hukum yang hidup (living law), nilai budaya, dan persepsi sosial masyarakat.]

 

Downloads

Download data is not yet available.

References

Arbia, Ayu, and Arif Sugitanata. “Integrasi Teori Stigma Erving Goffman Terhadap Keadilan Sosial Bagi Good Looking Dan Diskriminasi Untuk Bad Looking.” Jurnal Darussalam: Pemikiran Hukum Tata Negara Dan Perbandingan Hukum 4, no. 1 (2024): 110–24.

Devina, Dara, and Zainuddin Hasan. “Peranan Sistem Kekerabatan Dan Struktur Sosial Pada Masyarakat Adat Lampung.” Journal of Education and Humanities (JEH) 1, no. 2 (2025): 85–96.

Diala, Anthony. “The Concept of Living Customary Law: A Critique.” The Journal of Legal Pluralism and Unofficial Law 49, no. 2 (2017): 143–65. https://doi.org/10.1080/07329113.2017.1331301.

Djawas, Mursyid, Abidin Nurdin, Muslim Zainuddin, and Zahratul Idami. “Harmonization of State , Custom , and Islamic Law in Aceh?: Perspective of Legal Pluralism.” Hasanuddin Law Review 10, no. 1 (2024): 64–82. https://doi.org/10.20956/halrev.v10i1.4824.

Faried, Achmad, and Hudi Yusuf. “Penerapan Teori Teori Kriminologi Dalam Sistem Kontrol Sosial.” Integrative Perspectives of Social and Science Journal (IPSSJ) 2, no. 2 (2025): 2709–15.

Fauzi, Lukman Hakim, Ahmad Sunawari Long, and Taslim HM. Yasin. “Pulang Bale Marriage Traditions and Child Care Issues: A Study of Hadanah and Family Resilience in Aceh.” JURIS Jurnal Ilmiah Syariah 23, no. 1 (2024): 179–91. https://doi.org/10.31958/juris.v23i1.8597.

Hidayanan, Muhammad Irvan, Mansari, Azhari Yahya, and Iman Jauhari. “Hak Asuh Anak Pasca Perceraian Orangtua Dalam Putusan Hakim Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh.” Gender Equality: International Journal of Child and Gender Studies 4, no. 2 (2018): 103–24.

Idris, M. “Hukum Menikahi Kakak/Adik Ipar.” Jurnal Al-’Adl 9, no. 1 (2016): 113–26.

Irwansyah. Penelitian Hukum Pilihan Metode & Praktik Penulisan Arikel. Makassar: Mirra Buana Media, 2021.

Ja’far, A. Kumedi, Gandhi Liyorba Indra, Linda Firdawaty, and Rohmadi. “Turun Ranjang Marriage in Interdisciplinary Perspective: A Study on The Community of West Java and Lampung.” Madania Jurnal Kajian Keislaman 24, no. 2 (2020): 213–22.

Jailani, and Fakhrurrazi M. Yunus. “Legislasi Qanun Hukum Keluarga (Ahwal Al-Syakhshiyah) (Analisis Metode Penalaran Hukum Islam Dalam Proses Taqnin Di Aceh).” Banda Aceh, 2020.

Jamil, Bidasari, Nilawati Uly, and Andi Alim. “Stigma, Layanan, Dan Intervensi HIV: Kajian Literature Review Terhadap Tantangan Dan Strategi Global.” Borneo Nursing Journal (BNJ) 8, no. 1 (2025): 317–27.

JOUR, GiordaTY -, K. G. AU - Narzullayevna, PY - 2022, TI - Psychological effects of motivation of marriage in young peopl e on family Strength, JO - Academica: An International Multidisciplinary Research Journal, VL - 12, IS - 6, SP - 301, EP - 303, and Christian ER -no. “Honour between Different Cultures and Legal Systems: Social Status, Reputation, Struggles for Recognition.” European Review 24, no. 03 (2016): 417–25. https://doi.org/10.1017/S1062798716000144.

Khairiyatin, Fitri Annisa Hatta, Raudatul Jannah, and Eko Wahyu Nurdiansyah. “The Existence of Turun Ranjang Marriage as an Effort to Enhance Family Harmony in Bakeong Village, Guluk-Guluk, Sumenep.” MAQASIDI: Jurnal Syariah Dan Hukum 4, no. 2 (2024): 335–44. https://doi.org/10.47498/maqasidi.v4i2.3637.

Kleinman, Arthur, and Rachel Hall-Clifford. “Stigma?: A Social, Cultural, and Moral Process.” Journal of Epidemiology and Community Health 63, no. 6 (2008): 2–7.

Luthfie, Muhammad, Aida Viyala S Hubeis, Amiruddin Saleh, and Basita Ginting. “Interaksi Simbolik Organisasi Masyarakat Dalam Pembangunan Desa.” Informasi 47, no. 1 (2017): 19–34.

Martins, P P S, S McNamee, and C Guanaes-Lorenzi. “Family as a Discursive Achievement: A Relational Account.” Marriage & Family Review 50, no. 7 (2014): 621–37. https://doi.org/10.1080/01494929.2014.938290.

Mukti Fajar, Yulianto. Dualisme Penelitian Hukum Normatif & Empiris. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015.

Narzullayevna, K G. “Psychological Effects of Motivation of Marriage in Young People on Family Strength.” Academica: An International Multidisciplinary Research Journal 12, no. 6 (2022): 301–3.

Nurlita, Divani ’Aina, Elvira Damayanti, and Daffa Arjuna Arya Putra. “Perkawinan Dalam Perspektif Hukum Adat Indonesia?: Ragam Sistem , Tradisi, Dan Tantangan Modern Elvira Damayanti Daffa Arjuna Arya Putra Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.” Tarunalaw: Journal of Law and Syariah 03, no. 02 (2025): 99–116.

Pans, A E M J. “The Junior Levirate and Junior Sororate: A Cross-Cultural Study.” Cross-Cultural Research 26 (1992): 37–56. https://doi.org/10.1177/106939719202600102.

Sabelau, Sinta, Seno Lamsir, and Andy Savero. “Pengaruh Budaya Terhadap Pembentukan Sistem Hukum Dalam Perspektif Sosiologi Dan Antropologi.” Lentera Karya: Jurnal Ilmiah Pendidikan, Sejarah Dan Humaniora 9, no. 2 (2025): 15–26.

Safira, Ridha, Tarmizi M. Jakfar, and Gamal Akhyar. “Dampak Perkawinan Pulang Balee Dalam Kehidupan Rumah Tangga Di Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar.” Jurnal El-Hadhanah 1, no. 2 (2021): 205–24.

Samad, Sri Asuti A., and Munawwarah. “Adat Pernikahan Dan Nilai-Nilai Islami Dalam Masyarakat Aceh Menurut Hukum Islam Sri.” El-Usrah: Jurnal Hukum Keluarga 3, no. 2 (2020): 289–302.

Savero, Arya, and Zainudin Hasan. “Prinsip-Prinsip Hukum Perkawinan Adat Lampung Pesisir Dan Peranan Dalam Menjaga Harmoni Keluarga.” Kampus Akademik Publishing 2, no. 6 (2025): 136–44.

Suryandari, Nikmah. “Teori Manajemen Identitas?: Kajian Tentang Faceworks Dalam Hubungan Antar Budaya.” Jurnal Komunikasi 14, no. 1 (2020): 95–104.

Wegar, Katarina. “Adoption, Family Ideology, and Social Stigma: Bias in Community Attitudes, Adoption Research, and Practice.” Family Relations 49, no. 4 (2000): 363–69. https://doi.org/10.1111/j.1741-3729.2000.00363.x.

Yani, Putri, Ibnu Phonna Nurdin, Firdaus Mirza Nusuary, and Bukhari. “Analisis Tindakan Sosial Orang Tua Terhadap Penetapan Mahar.” Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora 2, no. 1 (2026): 440–49.

Yazid, Afthon, Arif Sugitanata, Fadila Hasan, Fauzia Ulirrahmi, and Siti Khamidatus Sholikhah. “The Role of Bales Nae Tradition in Strengthening Family Harmony and Social Cohesion in the Sasak Community of Lombok, Indonesia.” Jurnal Ilmiah Al-Syir’ah 22, no. 1 (2024): 79–94.

Zainuddin, Muslim, Mansari, and Nadhilah Filzah. “Divorce Problems and Community Social Capital in Realizing Family Resilience in Aceh.” Samarah 6, no. 2 (2022): 914–33. https://doi.org/10.22373/sjhk.v6i2.15080.

Zainuddin, Muslim, Mukhsin Nyak Umar, Dedy Sumardi, Mansari, and Zakki Fuad Khalil. “Protection of Women and Children in the Perspective of Legal Pluralism: A Study in Aceh and West Nusa Tenggara.” Samarah 8, no. 3 (2024): 1948–73. https://doi.org/10.22373/sjhk.v8i3.22203.

Published

2026-06-30

How to Cite

Mansari, M., & Fatahillah, Z. (2026). Social Stigma and Family Identity Construction in Pulang Balee Marriage among Acehnese Society: A Legal Anthropology Perspective. Ahlika: Jurnal Hukum Keluarga Dan Hukum Islam, 3(1), 1–27. https://doi.org/10.70742/ahlika.v3i1.599