Perumusan Tujuan Pembelajaran yang Terukur dalam Pendidikan Islam: Kerangka Kerja bagi Pelaksanaan Asesmen yang Efektif
DOI:
https://doi.org/10.70742/asoc.v2i4.1195Keywords:
Larning objectives, measurability, Islamic Education, operational action verbs, assessment.Abstract
The formulation of measurable Learning Objectives (LOs) constitutes an essential foundation in the development of Islamic Education teaching materials. Within the context of Indonesia’s national curriculum reform through Regulation of the Minister of Education, Culture, Research, and Technology Number 12 of 2024 and the Decree of the Minister of Religious Affairs (KMA) Number 450 of 2024, Islamic Education teachers are expected to translate Learning Outcomes (CP) into more specific, holistic, operational, and measurable learning objectives. However, in practice, many teachers still experience difficulties in formulating clear and measurable learning objectives. This condition may lead to misalignment between learning objectives and the assessment instruments employed. This study aims to analyze strategies for formulating measurable learning objectives in Islamic Education by integrating the ABCD principles (Audience, Behavior, Condition, and Degree), the revised Bloom’s Taxonomy developed by Anderson and Krathwohl, and the distinctive characteristics of Islamic Education learning. This study employed a descriptive qualitative method using a library research approach. The findings indicate that the formulation of measurable learning objectives in Islamic Education should be based on the appropriate selection of operational action verbs that correspond to the intended competencies. These verbs should encompass three major domains: the cognitive domain, the affective domain related to spiritual and social attitudes, and the psychomotor domain reflected in students’ ability to practice religious rituals and apply Islamic values in their daily lives. The use of specific, clear, and contextualized operational verbs can assist teachers in developing formative and summative assessments that are better aligned with learning objectives, more accurate in measuring students’ achievement, and supportive of objective and equitable assessment practices.
[Perumusan Tujuan Pembelajaran (Learning Objectives/LOs) yang terukur merupakan landasan penting dalam pengembangan bahan ajar Pendidikan Agama Islam (PAI). Dalam konteks reformasi kurikulum nasional Indonesia melalui Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 12 Tahun 2024 serta Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 450 Tahun 2024, guru Pendidikan Agama Islam diharapkan mampu menerjemahkan Capaian Pembelajaran (CP) ke dalam tujuan pembelajaran yang lebih spesifik, holistik, operasional, dan terukur. Namun, dalam praktiknya, masih banyak guru yang mengalami kesulitan dalam merumuskan tujuan pembelajaran yang jelas dan terukur. Kondisi tersebut dapat menyebabkan ketidaksesuaian antara tujuan pembelajaran dan instrumen asesmen yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi perumusan tujuan pembelajaran yang terukur dalam Pendidikan Agama Islam dengan mengintegrasikan prinsip ABCD (Audience, Behavior, Condition, dan Degree), Taksonomi Bloom revisi yang dikembangkan oleh Anderson dan Krathwohl, serta karakteristik khas pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perumusan tujuan pembelajaran yang terukur dalam Pendidikan Agama Islam perlu didasarkan pada pemilihan kata kerja operasional yang tepat dan sesuai dengan kompetensi yang hendak dicapai. Kata kerja tersebut perlu mencakup tiga ranah utama, yaitu ranah kognitif, ranah afektif yang berkaitan dengan sikap spiritual dan sosial, serta ranah psikomotorik yang tercermin dalam kemampuan peserta didik dalam mempraktikkan ibadah dan menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan kata kerja operasional yang spesifik, jelas, dan kontekstual dapat membantu guru mengembangkan asesmen formatif dan sumatif yang lebih selaras dengan tujuan pembelajaran, lebih akurat dalam mengukur pencapaian peserta didik, serta mendukung pelaksanaan asesmen yang objektif dan berkeadilan.]
References
Arifin, Z. (2017). Evaluasi Pembelajaran: Prinsip, Teknik, dan Prosedur . Bandung: Remaja Rosdakarya.
Azwar, S. (2015). Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya . Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kementerian Agama RI. (2024). Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 450 Tahun 2024 tentang Pedoman Penerapan Kurikulum pada Raudhatul Athfal, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, dan Madrasah Aliyah Kejuruan . Jakarta: Kementerian Agama Republik Indonesia.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2024). Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah . Jakarta : Kemendikbudristek.
Majid, A. (2014). Strategi Pembelajaran . Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mulyasa, E. (2013). Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013 . Bandung: Remaja Rosdakarya.
Ramayulis. (2012). Metodologi Pendidikan Agama Islam . Jakarta: Kalam Mulia.
Sanjaya, W. (2013). Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran . Jakarta: Grup Media Kencana Prenada.
Smaldino, SE, Lowther, DL, & Russell, JD (2011). Teknologi Pembelajaran dan Media Pembelajaran (Teknologi Pembelajaran dan Media untuk Belajar). Jakarta: Kencana.
Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D . Bandung: Alfabeta.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Abdul Hadi, Miftah Miftah, Yunus Yunus, Juni Erpida Nasution

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.






