Implementasi Konsep Qath’i dan Dzanni dalam Jarimah Pencurian: Relevansi Hukuman Potong Tangan di Era Modern

Authors

  • Rahmad Setyawan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta
  • Muslih Muslih Universitas Islam Bunga Bangsa Cirebon

DOI:

https://doi.org/10.70742/arlash.v1i2.82

Keywords:

Keywords: Qath’i; Dzanni; Crime of Theft., Kata Kunci: Qaht’i; Dzanni; Jarimah Pencurian.

Abstract

Abstract: The concepts of qath'i (definitive) and dzanni (speculative) in Islamic law continue to generate differing opinions among scholars of ushul fiqh in determining whether the texts of the Qur'an or Hadith are qath'i or dzanni. This paper aims to deconstruct the concepts of qath'i and dzanni and their implementation in the crime of theft. Methodologically, this research is a library study (library research) using a normative-textual approach. Data collection was conducted by reviewing various library sources such as the Qur'an, Hadith, laws, journals, articles, books, works of scholars, and various references related to the issue being studied. The results indicate that the concepts of qath'i and dzanni, as utilized by classical scholars of ushul fiqh, are regarded as a final and commonly accepted understanding. However, with the progression of modern times, contemporary scholars of ushul fiqh have criticized and expressed concerns over the method of relying solely on textual sources without considering their essences. Therefore, the stipulation of hand-cutting punishment for theft, as described in the Qur'an or Hadith, should not be interpreted textually as a qath'i legal provision. The implementation of hand-cutting punishment in the modern era, when associated with the values and principles of the Qur'an known as maqasid al-Shariah, becomes less relevant. This means that the hand-cutting punishment is not the ultimate goal to be applied to thieves but rather an intermediary to achieve the objective of providing a warning and deterrence to prevent theft, as the meaning of 'hand' can also be interpreted as power, opportunity to steal, etc. Thus, the punishment for the thief can be modified according to the surrounding situation and conditions, such as imprisonment, fines, or removal from their position

Keywords: Qath’i; Dzanni; Crime of Theft.

Abstrak: Konsep qath’i dan dzanni dalam hukum Islam masih menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan ulama ushul fikih untuk menetapkan nash al-Qur’an dan hadis apakah bersifat qath’i atau dzanni. Tulisan ini bertujuan untuk mendekonstruksi konsep qath’i dan dzanni dan implementasinya dalam jarimah pencurian. Secara metodologi penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan metode pendekatan normatif-tekstual. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan cara mengkaji berbagai literatur kepustakaan seperti al-Qur’an, hadis, undang-undang, jurnal, artikel, buku-buku, kitab-kitab karya ulama, dan berbagai sumber referensi yang berkaitan dengan isu yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep qath’i dan dzanni yang digunakan oleh ulama ushul fikih klasik dianggap sebagai suatu pemahaman umum yang final dan wajar digunakan. Namun, seiring dengan perkembangan zaman yang semakin modern, ulama ushul fikih kontemporer mengajukan kritik dan menunjukkan kegelisahan terhadap metode yang hanya berpegang pada nash tanpa mempertimbangkan substansinya. Oleh karena itu ketentuan hukuman potong tangan bagi pelaku pencurian sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an atau hadis tidak harus dimaknai secara tekstual sebagai ketentuan hukum yang bersifat qath’i. Pemberlakuan hukuman potong tangan di era modern, jika dikaitkan dengan nilai dan prinsip al-Qur’an yang dikenal dengan maqasid al-Syari’ah, maka menjadi kurang relevan. Artinya, hukuman potong tangan bukanlah tujuan akhir yang harus diterapkan bagi pelaku pencurian, melainkan sebagai perantara untuk mencapai tujuan yaitu memberikan peringatan dan efek jera agar tidak melakukan tindakan pencurian, karena makna tangan bisa saja diartikan sebagai kekuasaan, kesempatan untuk mencuri, dan lain-lain. Dengan demikian, hukuman bagi pelaku pencurian dapat dirubah sesuai dengan situasi dan kondisi yang melingkupinya, seperti dipenjarakan, denda, atau pencopotan dari jabatannya.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Al-Bukhari, Muhammad ibn Ismail. Matan Al-Bukhari. Beirut: Dar al-Fikr, n.d.

Al-Gustami, Fuad Irfan. Munjid At-Tulab. Libanon: Dar Al Masyriq, 1957.

Al-Jabiri, Muhammad Abid. Agama, Negara Dan Penerapan Syari’ah, Alih Bahasa Mujiburrahman. Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2001.

Assulthoni, Fahmi. “Progresivitas Pemikiran Hukum Umar Ibn Khattab.” Jurnal Studi Keislaman 1, no. 1 (2015): 98–108. http://ejournal.kopertais4.or.id/madura/index.php/ulumuna/article/view/145.

Asy-Syaukani, Muhammad ibn Ali. Nailul Al-Authar. Beirut: Dar al-Fikr, n.d.

Audah, Abdul Qadir. At-Tasyri’ Al-Jinaiy Al-Islamiy. Beirut: Dar al-Kitab al-Araby, n.d.

Awalia, Rubi, Muhammad Amri, dan Indo Santalia. “Qath’i Dan Zanni Serta Peran Akal Dalam Menginterpretasikan Nas.” MUSHAF JOURNAL: Jurnal Ilmu Al Quran Dan Hadis 2, no. 3 (2022): 299–309. https://doi.org/10.54443/mushaf.v2i3.76.

Az-Zuhaili, Wahbah. Ushul Al-Fiqh Al-Islami. Beirut: Dar al-Fikr, 1986.

Bahri, Samsul. Metodologi Hukum Islam. Yogyakarta: Teras, 2008.

Bakr, Abu Fath Muhammad ibn ’Abdul Karim ibn Abu. Al-Milah Wa an-Nihal. Mesir: Musthafa al-Babi al-Halabi, 1967.

Djazuli, A. Kaidah-Kaidah Fikih (Kaidah-Kaidah Hukum Islam Dalam Menyelesaikan Masalah-Masalah Yang Praktis. Jakarta: Prenada Media Group, 2006.

Djazuli, A., dan I. Nurol Aen. Ushul Fiqih. Bandung: Gilang Adithya Press, 1996.

Doi, Abdur Rahman I. Tindak Pidana Dalam Syariat Islam. Jakarta: Rineka Cipta, 1992.

Faidullah, Muhammad Fuad Fauzi. Al-Ijtihad Fi Asy-Syari’ah Al-Islamiyyah. Kuwait: Maktabah Dar at-Turats, 1988.

Fitra, Tasnim Rahman. “Ijtihad ‘umar Ibn Al-Kha???b Dalam Perspektif Hukum Progresif.” AL-AHKAM 26, no. 1 (2016): 49–64. https://doi.org/10.21580/ahkam.2016.26.1.705.

Haika, Ratu. “Konsep Qath’i Dan Zhanni Dalam Hukum Kewarisan Islam.” Mazahib 15, no. 2 (2016): 183–95. https://doi.org/10.21093/mj.v15i2.632.

Hanafi, Ahmad. Asas-Asas Hukum Pidana Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1967.

Hasan, Beni Ahmad Saebani dan Mustofa. Hukum Pidana Islam Fiqih Jinayah. Bandung: Pustaka Setia, 2020.

Irfan, M. Nurul. Korupsi Dalam Hukum Pidana Islam. Jakarta: Amzah, 2013.

Kau, Sofyan A. P. Tafsir Hukum Tema-Tema Kontroversial. Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2013.

Khaeruman, Badri. Hukum Islam Dalam Perubahan Sosial. Bandung: Pustaka Setia, 2010.

Khallaf, Abdul Wahhab. Ilmu Ushul Al-Fiqh Al-Islami. Kuwait: Dar al-Qalam, 1978.

Kurniasari, Dena, Nabila Rahma Roihani, dan Shafriyana Mawarni Nurjannah. “Qath’i Dan Zhanni Dalam Kewarisan Islam.” Media Syari’ah?: Wahana Kajian Hukum Islam Dan Pranata Sosial 22, no. 2 (2021): 194. https://doi.org/10.22373/jms.v22i2.7851.

Mardani. Hukum Pidana Islam. Jakarta: Kencana, 2019.

———. “Sanksi Potong Tangan Bagi Pelaku Tindak Pidana Pencurian Dalam Perspektif Hukum Islam.” Jurnal Hukum IUS QUIA IUSTUM 15, no. 2 (2008): 239–59. https://doi.org/10.20885/iustum.vol8.iss2.art7.

Mas’udi, Masdar Farid. Agama Keadilan, Risalah Zakat (Pajak) Dalam Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1991.

———. Islam Dan Hak-Hak Reproduksi Perempuan: Dialog Fikih Perempuan. Bandung: Mizan, 1997.

Muslich, Ahmad Wardi. Hukum Pidana Islam. Jakarta: Sinar Grafika, 2004.

Octaviani, Nur Danisia, Taufik Kurahman, dan Moh Iqbal Assyauqi. “Reinterpretasi Teks Hukum Potong Tangan Perspektif Hermeneutika Khaled M. Abou El Fadl.” Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan Dan Kemasyarakatan 16, no. 4 (2022): 1536. https://doi.org/10.35931/aq.v16i4.1155.

Rahmawati, Sugma. “Hukum Mencuri Dalam Keadaan Terdesak Berdasarkan Klarisifikasi Hadist Shohih.” Al-Mahkamah Islamic Law Journal 1, no. 1 (2023): 29–35. https://doi.org/https://doi.org/10.61166/mahkamah.v1i1.7.

Rahmi, Nailul. “Hukuman Potong Tangan Perspektif Al-Qur’an Dan Hadis.” Jurnal Ulunnuha 7, no. 2 (2018): 53. https://doi.org/https://doi.org/10.15548/ju.v7i2.254.

Riyanta. Ijtihad Dan Isu-Isu Hukum Kewarisan Islam. Yogyakarta: Ierpro Kreasindo, 2018.

Sabiq, Sayyid. Fiqih As-Sunnah Juz II. Beirut: Dar al-Fikr, 1980.

Setyawan, Rahmad. “Menakar Pencatatan Perkawinan Di Indonesia Perspektif Kaidah Fiqhiyah?: Antara Legalitas Negara Dan Keabsahan Syariah.” Jurnal Al-Hakim: Jurnal Ilmiah Mahasiswa, Studi Syariah, Hukum Dan Filantropi 6, no. 2 (2024): 199–218. https://doi.org/doi.org/10.22515/jurnalalhakim.v6i2.10063.

———. “Wasiat Wajibah , Nonmuslim Dan Kemaslahatan Hukum?: Studi Putusan MA Tahun 1995-2010.” Asy-Syir’ah: Jurnal Ilmu Syari’ah Dan Hukum 53, no. 1 (2019): 31–57. https://doi.org/https://doi.org/10.14421/ajish.v53i1.

Setyawan, Rahmad, Doli Witro, Darti Busni, Muhammad Taufik Kustiawan, dan Fatimatuz Zahro Mulia. “Contemporary Ijtihad Deconstruction in The Supreme Court?: Wasiat Wajibah as An Alternative for Non-Muslim Heirs in Indonesia.” Jurnal Ilmiah Al- Syir ’ Ah 22, no. 1 (2024): 25–40. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.30984/jis.v22i1.

Shihab, M. Quraish. Membumikan Al-Qur’an: Fungsi Dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan, 2007.

Sinulingga, Asmita Sari Br. “Qath’y Dan Zhanny Dalam Kewarisan Islam.” Al-Muamalat Jurnal Hukum Dan Ekonomi Syariah IV, no. 2 (2019): 176.

Sufriadi, dan Fauza Andriyadi. “Pencurian Menurut Hukum Islam.” Jurnal Al-Nadhair 1, no. 2 (2022): 1–9. https://doi.org/10.61433/alnadhair.v1i2.18.

Supena, Ilyas, dan M. Fauzi. Dekonstruksi Dan Rekonstruksi Hukum Islam. Yogyakarta: Gama Media, 2002.

Zahrah, Muhammad Abu. Ushul Al-Fiqh. Kairo: Dar al-Fikr al-Arabi, n.d.

———. Ushul Fiqh. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994.

Downloads

Published

2024-11-13

How to Cite

Setyawan, R. ., & Muslih, M. (2024). Implementasi Konsep Qath’i dan Dzanni dalam Jarimah Pencurian: Relevansi Hukuman Potong Tangan di Era Modern . Abdurrauf Law and Sharia, 1(2), 164–190. https://doi.org/10.70742/arlash.v1i2.82