Tradisi Saisuak Balimau Sebagai Local Wisdom Masyarakat Pariaman Dalam Menyambut Bulan Suci Analisis Pergeseran Makna Budaya

Authors

  • Hamzah Irfanda Institut Agama Islam Sumbar
  • Syifa Ullinnas Institut Agama Islam Sumatera Barat

DOI:

https://doi.org/10.70742/dampeng.v2i1.558

Keywords:

Tradition, Saisuak, Balimau

Abstract

The Saisuak Balimau tradition is a local wisdom of the Pariaman City community in welcoming the holy month of Ramadan. This tradition is essentially interpreted as a symbol of self-purification, both physically and spiritually, before entering the month full of worship. However, in contemporary practice, there has been a shift in meaning marked by the emergence of activities that are less in line with religious values ??and the principles of Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. This phenomenon is important to study because it shows the tension between the preservation of local culture and Islamic values ????amidst social changes in society. Previous studies generally discuss balimau as a cultural tradition or as part of the ritual of welcoming Ramadan, but not many have critically examined the dynamics of shifting meanings and their implications for community religious awareness. Therefore, this study seeks to fill this gap by analyzing the Saisuak Balimau tradition as local wisdom whose meaning needs to be reconstructed to remain relevant, educational, and aligned with Islamic sharia values ????in the social context of contemporary Pariaman society. Balimau is one of the traditions of the Pariaman people in welcoming the holy month of Ramadan. Its original meaning is good because it is an effort to cleanse the body/body and lime and fragrances in nature. However, in fact, what happens is no longer a balimau bath but a balunau because of the mixing between men and women so that it is no longer seen as good, which has been criticized by many community leaders and religions.

[Tradisi Saisuak Balimau merupakan kearifan lokal masyarakat Kota Pariaman dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Tradisi ini pada dasarnya dimaknai sebagai simbol penyucian diri, baik secara lahir maupun batin, sebelum memasuki bulan penuh ibadah. Namun, dalam praktik yang terjadi era kontemporer ini, terjadi pergeseran makna yang ditandai dengan munculnya aktivitas yang kurang sejalan dengan nilai-nilai religius dan prinsip Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Penelitian ini bertujuan menganalisis Fenomena ini penting dilakukan penelitian karena menunjukkan adanya ketegangan antara pelestarian budaya lokal dan nilai keislaman di tengah perubahan sosial masyarakat penelitian terdahulu umumnya membahas balimau sebagai tradisi budaya atau sebagai bagian dari ritual penyambutan Ramadan tetapi belum banyak yang menelaah secara kritis dinamika pergeseran makna serta implikasinya terhadap kesadaran keagamaan masyarakat. Oleh karena itu, penelitianmenggunakan metode kulaitatif penelitian lapangan  ini berupaya mengisi kekosongan tersebut dengan menganalisis tradisi Saisuak Balimau sebagai kearifan lokal yang perlu direkonstruksi maknanya agar tetap relevan, edukatif, dan selaras dengan nilai syariat Islam dalam konteks sosial masyarakat Pariaman masa kini. Temuan dari penelitian ini menunjukan bahwa Balimau salah satu tradisi masyarakat pariaman dalam menyambut bulan suci ramadhan makna asalnya baik karena salah satu upaya dalam membersihkan badan/jasmani dan limau serta wewangian yang ada di alam,tapi faktanya yang terjadi bukan lagi mandi balimau tapi balunau karena adanya percampuran antara laki-laki dan perempuan sehingga sudah tidak elok di pandang banyak kritik dari tokoh masyarakat,dan agama.]

References

Amin, I. (2022). Implementasi Hukum Islam Dalam Falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah Di Minangkabau. Ijtihad, 38(2).

Aprilianti, A., & Kasmawati, K. (2022). Hukum Adat Di Indonesia.

Asriwandari, H., Susanti, R., & Hidayat, R. (2023). Makna Tradisi Balimau Kasai di Desa Tanjung Berulak Kecamatan Kampar. Satwika: Kajian Ilmu Budaya Dan Perubahan Sosial, 7(2), 503–515.

Atha Gunadi, H. (2024). MAKNA SIMBOLIK TRADISI BELIMAU PADA MASYARAKAT LAMPUNG SAIBATIN MAKHGA WAY LIMA DI DESA KUTA DALOM KECAMATAN WAY LIMA KABUPATEN PESAWARAN.

Bilintoh, T. M., Pontius Jr, R. G., & Zhang, A. (2024). Methods to compare sites concerning a category’s change during various time intervals. GIScience & Remote Sensing, 61(1), 2409484. https://doi.org/10.1080/15481603.2024.2409484

Copriady, J. (2025). Fenomenologi Edmund Husserl dalam Memahami Tradisi Mandi Balimau Kasai di Lubuk Bendahara, Rokan Hulu. JURNAL ILMU BUDAYA, 13(1), 29–38.

Dimi, A. R., Supiarza, H., & Pratama, M. A. (2025). RITUAL BALIMAU MINANGKABAU: TRADISI PENYUCIAN DIRI DAN TRANSFORMASI SOSIAL. Jurnal Budaya Etnika, 9(2), 149–158.

Fajri, R., Syofiani, S., Sari, A. A., Junaidial, J., & Athallah, M. F. (2023). Kearifan Lokal Budaya Mandi Balimau di Minangkabau Dalam Menyambut Bulan Suci Ramadhan. Jurnal Ilmiah Langue and Parole, 7(1), 28–32.

Irfanda, H. (2025). SEJARAH KELEMBAGAAN SURAU DI MINANGKABAU. An Najah (Jurnal Pendidikan Islam Dan Sosial Keagamaan), 4(5), 32–43.

Liva, S. S. (2023). Dampak Industri Kopi Klangenan Terhadap Perubahan Sosial Ekonomi Masyarakat Muslim Desa Pringkumpul Kecamatan Pringsewu Kabupaten Pringsewu.

Lopa, S. A., Darwianis, D., Beyete, E., & Ibrahim, D. M. (2023). Mandi Balimau Sebagai Tradisi Masyarakat di Minangkabau. Jurnal Ilmiah Langue and Parole, 7(1), 16–20.

Mardeni, P. R., & Copriady, J. (2023). Tradisi Balimau Kasai di Tanah Melayu Riau dalam Perspektif Fenomenologi Edmund Husserl. Jurnal Filsafat Indonesia, 6(3), 493–500.

Mawarti, S. (2020). TRADISI MANDI BALIMAU Menengok Kembali Nilai Pendidikan Agama Islam pada Tradisi di Riau. Nusantara; Journal for Southeast Asian Islamic Studies, 17(1), 1–7.

Munthe, M. (2022). Tinjauan Hukum Islam Terhadap Kebiasaan Masyarakat Mandi di Sungai Satu Tempat Antara Laki-Laki dan Perempuan. Abdurrauf Journal of Islamic Studies, 1(3), 192–207.

Nur, M. (2023). KONTRIBUSI PONDOK PESANTREN AL-FALAH DALAM PERUBAHAN SOSIAL KEAGAMAAN MASYARAKAT DI DESA JAYASAKTI KECAMATAN ANAK TUHA KABUPATEN LAMPUNG TENGAH.

Putra, Y. H., Diva, S. H., & Diana, P. (2022). Merawat Keharmonian Masyarakat Lokal. uwais inspirasi indonesia.

Putri, F. A., Bramasta, D., & Hawanti, S. (2020). Studi literatur tentang peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran menggunakan model pembelajaran the power of two di SD. Jurnal Educatio Fkip Unma, 6(2), 605–610.

Shinta, R. (2025). Makna Simbolik Makanan Tradisional Pinyaram dalam Upacara Batagak Penghulu di Nagari Baringin Palembayan.

Soleha, S. (2023). Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Praktik Ritual Adat Masyarakat Bangka. Jurnal Sustainable, 6(2), 873–883.

Tarigan, N. B., Damanik, F. H. S., Ngabalin, M., Estede, S., Gea, E., Mirsel, R., Dewi, O., & Kristiantoro, S. (2025). Sosiologi Agama: Dinamika dan Fenomena Sosial Kontemporer. Star Digital Publishing.

Vadisa, V. V., Putri, R. Q. A., & Istiyanto, S. B. (2024). Ritual Balimau Menyambut Ramadhan: Makna Dan Relevansinya Bagi Masyarakat Minangkabau. AGUNA: Jurnal Ilmu Komunikasi, 5(2), 62–68.

Downloads

Published

2026-04-12

How to Cite

Irfanda, H. ., & Ullinnas, S. . (2026). Tradisi Saisuak Balimau Sebagai Local Wisdom Masyarakat Pariaman Dalam Menyambut Bulan Suci Analisis Pergeseran Makna Budaya. Dampeng: Journal of Art, Heritage and Culture, 2(1), 33–40. https://doi.org/10.70742/dampeng.v2i1.558