Transformasi Struktur Sosial Masyarakat melalui Perkembangan Industri Batik di Surakarta Tahun 1950–1970: Perspektif Sejarah Sosial

Authors

  • Afifatusholehah Afifatusholehah Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta
  • Alwa Shofwah Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

DOI:

https://doi.org/10.70742/dampeng.v2i2.1069

Keywords:

Batik Industry, Surakarta, Social History

Abstract

Pada tahun 2009, UNESCO mengakui Batak sebagai warisan budaya tak benda Indonesia yang memiliki nilai ekonomi bagi para pelaku industri. Dengan kampung-kampung batik seperti Laweyan dan Kauman sebagai bukti akar budaya dan ekonominya, Surakarta menjadi pusat perkembangan industri batik yang signifikan. Tradisi keraton, keterampilan membatik yang diwariskan secara turun-temurun, dan jaringan perdagangan yang terus berkembang mendorong pertumbuhan industri batik Surakarta. Perusahaan ini mengalami pertumbuhan pesat setelah kemerdekaan, terutama selama tahun 1950–1970, bersama dengan pemulihan ekonomi nasional yang ditandai dengan peningkatan usaha, tenaga kerja, dan jarak perdagangan. Lebih dari sekedar bisnis, industri batik membentuk struktur sosial di masyarakat Surakarta. Munculnya kelompok sosial baru seperti pengusaha, pedagang, dan buruh batik menunjukkan dampak industri ini terhadap dinamika sosial. Mbok mase Laweyan menunjukkan peran strategis perempuan dalam bisnis batik. Namun demikian, perubahan dalam sistem kerja dan kehidupan sosial masyarakat batik Surakarta terus disebabkan oleh persaingan bisnis dan kemajuan teknologi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan pendekatan heuristik dan analitis. Dengan pemanfaatan sumber primer serta sekunder didalam penelitian. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini berfokus pada dokumentasi arsip dan sumber tertulis sekaligus wawancara

Kata Kunci: Industri Batik, Surakarta, Strukur Sosial

References

Akhyat, A. (2015). PERKEMBANGAN INDUSTRI BATIK LAWEYAN: MUNCULNYA PERUSAHAAN BATIK MAHKOTA LAWEYAN TAHUN 1956-2014 RIZAL MACHYUDIN, Arief Akhyat, M.A., 2014–2015.

Alhusain, A. S. (2015). MENUJU STANDARDISASI ( Efforts and Obstacles in the Development of Batik Industry in Surakarta towards Standardization ). Ekonomi Dan Kebijakan Politik, 6, 199–213.

Arianingrum, N., Dzaky, A., & Irani, B. (2025). Mbok Mase dan Peran Perempuan Priyayi dalam Industri Batik Laweyan Surakarta Pada Masa Kolonial , 1900-1970 Mbok Mase and the Role of Priyayi Women in Surakarta ’ s Laweyan Batik Industry during the Colonial Period , 1900-1970 PENDAHULUAN Sejarah panjang. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities, 06, 119–137. https://doi.org/10.22515/isnad.v6i02.12158

Arifin, S. N. A. Z. dan N. H. S. (2010). SURAKARTA: PERKEMBANGAN KOTA SEBAGAI AKIBAT PENGARUH PERUBAHAN SOSIAL PADA BEKAS IBUKOTA KERAJAAN DI JAWA. JURNAL LANSKAP INDONESIA, 2(2).

Aulia, A. P., Arwani, A., & Hartono, B. S. (2023). UPAYA PELESTARIAN BATIK TULIS YANG MULAI TERGANTIKAN BATIK PRINTING DI BUARAN PEKALONGAN. Urnal Sahmiyya, 2(2), 489–495.

Baidi. (2006). Pertubuhan Pengusaha Batik di Surakarta. Bahasa Dan Seni, 34(2), 241–253.

Desi Trisnawati, Ferawati, Ediantes, R. Z. (2025). Pelatihan Cap Batik dari Karton untuk Efisiensi Produksi pada Produk Batik Cap di Sentra Batik Anggreni Eka. JURNAL ABDIDAS, 6(4), 364–372.

Majah, I. (2015). LAWEYAN DALAM PERIODE KRISIS EKONOMI HINGGA MENJADI KAWASAN WISATA SENTRA INDUSTRI BATIK TAHUN 1998-2004. Journal of Indonesian History, 3(2), 29–36.

Maryati, I. (2019). PERAN KESENIAN BATIK LOKAL DI SURAKARTA UNTUK MENINGKATKAN DESTINASI WISATAWAN LOKAL DAN DOMESTIK. KERATON?: Journal of History Education and Culture, 1, 43–51.

Melly, L., Nuraisyah, R., Aminatussa, T., & Prasetyo, Y. (2025). Homage to the Figure of Ki Ageng Henis of Laweyan Surakarta a Hagiographical Studies. Filitra Kultura, Vol. 1(1), 46–51. https://doi.org/10.20961/filitra.v1i1.1994

Moerniwati, E. D. A. (n.d.). STUDI BATIK TULIS (Kasus di Perusahaan Batik Ismoyo Dukuh Butuh Desa Gedongan Kecamatan Plupuh Kabupaten Sragen), 30–41.

Nilamsari, N. (2014). Memahami studi dokumen dalam penelitian kualitatif, XIII(2), 177–181.

Noviantob, H. P. V. (2024). THREE WARRIORS FROM LAWEYAN. Santhet: Jurnal Sejarah, Pendidikan Dan Humaniora, 8(2), 2293–2302. https://doi.org/10.36526/js.v3i2.

Pramono, S., Sabana, S., Haldani, A., & Saidi, A. I. (2019). Semiotika visual dalam pertukaran tanda dan makna sosial politik pada batik karya hardjonagoro go tik swan. Jurnal Sosioteknologi, 18(3), 498.

Rakhmanto, F. F. F. dan B. (2025). DARI CANTING KE PRINTING TRANSFORMASI TEKNIK MEMBATIK (1975-1980). Jurnal Pendidikan Sejarah Dan Riset Sosial Humaniora (KAGANGA), 8(4), 518–530.

Sakinah, A. S. (2022). Peran Dalem Hardjonegaran Dalam Pelestarian Batik Indonesia Karya Go Tik Swan, 19(2), 104–112.

Santoso Doellah. (2017). 50 Tahun Danar Hadi Solo (1st ed.). Surakarta.

Saputri, R. A., Wachid, N., & Angraini, N. (2025). Batik sebagai Identitas Budaya Indonesia dalam Diplomasi Global?: Kajian Literatur Sistematis, 809–825.

Wahyono, T. (2014). PEREMPUAN LAWEYAN DALAM INDUSTRI BATIK DI SURAKARTA.pdf.

Wawancara

Bapak Joko, di Museum KH. Samanhudi pada tanggal 14 Mei 2026 pada siang hari pukul 13.40 WIB

Downloads

Published

2026-07-27

How to Cite

Afifatusholehah, A., & Shofwah, A. . (2026). Transformasi Struktur Sosial Masyarakat melalui Perkembangan Industri Batik di Surakarta Tahun 1950–1970: Perspektif Sejarah Sosial. Dampeng: Journal of Art, Heritage and Culture, 2(2), 80–93. https://doi.org/10.70742/dampeng.v2i2.1069