Eksistensi Kapal Kyai Rajamala sebagai Alat Transportasi Tahun 1861-1893: Kajian Sejarah dan Memori Masyarakat
DOI:
https://doi.org/10.70742/dampeng.v2i1.1008Keywords:
Kyai Rajamala ship, river transportation, Surakarta Palace, maritime historyAbstract
This study examines the Kyai Rajamala Ship as a form of royal river transportation and political symbolism in the Surakarta Kasunanan Palace during the1861-1893. Previous studies on Javanese transportation history have mainly focused on trade and colonial infrastructure, while the relationship between river transportation, collective memory, and royal symbolism remains underexplored. Using Maurice Halbwachs’ theory of collective memory and historical research methods, this study analyzes archival sources, oral traditions, palace narratives, and visual documentation related to the Kyai Rajamala Ship. The findings show that the ship functioned not only as a means of royal mobility and diplomacy, but also as a symbol of political legitimacy, spiritual authority, and Javanese cosmology. Furthermore, collective memory regarding the ship has been reproduced through oral traditions, cultural narratives, and heritage discourse in Surakarta society. This study contributes to Southeast Asian maritime history by positioning river transportation as part of inland maritime culture and collective memory formation in nineteenth-century Java.
[Penelitian ini mengkaji Kapal Kyai Rajamala sebagai bentuk transportasi sungai kerajaan dan simbolisme politik di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta pada tahun 1861-1893. Kajian sebelumnya mengenai sejarah transportasi di Jawa umumnya lebih berfokus pada perdagangan dan infrastruktur kolonial, sementara hubungan antara transportasi sungai, memori kolektif, dan simbolisme kerajaan masih jarang dibahas. Dengan menggunakan teori memori kolektif Maurice Halbwachs dan metode penelitian sejarah, penelitian ini menganalisis sumber arsip, tradisi lisan, narasi keraton, dan dokumentasi visual yang berkaitan dengan Kapal Kyai Rajamala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapal ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana mobilitas dan diplomasi kerajaan, tetapi juga sebagai simbol legitimasi politik, otoritas spiritual, dan kosmologi Jawa. Selain itu, memori kolektif mengenai kapal ini terus direproduksi melalui tradisi lisan, narasi budaya, dan diskursus warisan budaya dalam masyarakat Surakarta. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap sejarah maritim Asia Tenggara dengan menempatkan transportasi sungai sebagai bagian dari budaya maritim pedalaman dan pembentukan memori kolektif di Jawa abad ke-19.]
References
Assmann, J. (2011). Cultural memory and early civilization: Writing, remembrance, and political imagination. Cambridge University Press.
Boomgaard, P. (2007). Southeast Asia: An environmental history. ABC-CLIO.
Carey, P. (2012). The power of prophecy: Prince Diponegoro and the end of an old order in Java. KITLV Press.
Geertz, C. (1960). The religion of Java. University of Chicago Press.
Gottschalk, L. (1986). Understanding history: A primer of historical method. Alfred A. Knopf.
Halbwachs, M. (1992). On collective memory. University of Chicago Press.
Houben, V. J. H. (2002). Kraton and Kumpeni: Surakarta and Yogyakarta, 1830–1870. KITLV Press.
Kartodirdjo, S. (1993). Pendekatan ilmu sosial dalam metodologi sejarah. Gramedia Pustaka Utama.
Koloniaal Verslag. (1875). Koloniaal verslag van Nederlandsch-Indië. Staatsdrukkerij.
Kuntowijoyo. (2003). Metodologi sejarah. Tiara Wacana.
Lombard, D. (1996). Nusa Jawa: Silang budaya (Jilid II). Gramedia Pustaka Utama.
Reid, A. (1988). Southeast Asia in the age of commerce 1450–1680 (Vol. 1). Yale University Press.
Ricklefs, M. C. (2008). A history of modern Indonesia since c. 1200. Stanford University Press.
Sjamsuddin, H. (2012). Metodologi sejarah. Ombak.
Subiyakto, B. (2024). Wawancara pribadi. Surakarta.
Suyatno, K. R. T. (2025). Wawancara pribadi. Surakarta.
Widodo, S. (2025). Wawancara pribadi. Surakarta
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Riki Marfiah, Sucipto Sucipto, Qisthi Faradina Ilma Mahanani, Latif Kusairi

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.







