Al-Iqtishad wal Mashlahah: Journal of Islamic Economics and Business https://journal.abdurraufinstitute.org/index.php/iqtishadmashlahah <p align="justify"><strong data-start="0" data-end="72">Al-Iqtishad wal Mashlahah: Journal of Islamic Economics and Business</strong> (e-ISSN: <a href="https://issn.perpusnas.go.id/terbit/detail/20251213072139117">3123-6316</a>; p-ISSN: <a href="https://issn.perpusnas.go.id/terbit/detail/20251118342324504">3123-2418</a>) is a peer-reviewed scholarly journal published by the Abdurrauf Cendekia Nusantara Foundation, Indonesia. First launched in November 2025, the journal is issued twice a year, in November and May, and serves as an academic platform for researchers, scholars, practitioners, and the wider public with a strong interest in the intellectual development of Islamic Economics, Islamic Business, as well as Islamic Banking and Finance.</p> <p align="justify">The journal welcomes a wide range of methodological approaches—quantitative, qualitative, and mixed methods—in exploring contemporary issues, theoretical debates, and practical challenges within the fields of Islamic economics and business. It accepts submissions from both Muslim-majority and non-Muslim countries, particularly those in which Islamic economic principles are practiced, examined, or integrated into public and private sector activities.</p> <p align="justify">What distinguishes Al-Iqtishad wal Mashlahah from other journals in the discipline is its strong emphasis on interdisciplinary perspectives, integrating insights from economics, finance, business, and ethics within the framework of <em data-start="1229" data-end="1249">Maqasid al-Shariah</em> (the objectives of Islamic law). The journal not only provides space for empirical studies but also encourages the development of new conceptual models and contemporary Islamic economic thought, particularly those contributing to sustainability, digital transformation, and inclusive development. It actively involves international scholars as editors and reviewers to ensure the global relevance and academic rigor of its publications.</p> Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara en-US Al-Iqtishad wal Mashlahah: Journal of Islamic Economics and Business 3123-2418 Multi-Stakeholder Partnerships in Creative Halal Industry Development: A PRISMA Review https://journal.abdurraufinstitute.org/index.php/iqtishadmashlahah/article/view/985 <p>The global halal economy is experiencing significant growth, driven by the expanding Muslim consumer market worldwide. Indonesia, as the country with the largest Muslim population, has emerged as one of the strongest contributors to the world's third-largest Islamic economy, supported by continuous improvements in regulations, infrastructure, and halal industry development efforts. This study examines the role of multi-stakeholder partnerships in the strategy for developing the Indonesian halal industry through creativity and innovation. The research uses a qualitative approach, employing a systematic literature review of scientific articles published between 2017 and 2026 indexed in Scopus. The literature selection process was conducted using the PRISMA framework, covering three stages: identification, screening, and evaluation based on specified inclusion criteria. The findings show that multi-stakeholder partnerships involving government, industry sectors, academia, communities, Islamic financial institutions, and halal certification bodies play an important role in strengthening the halal industry ecosystem. The collaboration contributes to strengthening regulations, halal product innovation, human resource development, and access to financing that supports the growth of the halal creative sector. This research provides strategic insights into halal industry innovation cooperation and offers a framework for strengthening creativity-based halal industry development strategies, with practical implications for policymakers, industry practitioners, and academics engaged in advancing Indonesia's position in the global halal economy.</p> <p>[<em>Ekonomi halal global tengah mengalami pertumbuhan yang signifikan, didorong oleh meningkatnya jumlah konsumen Muslim di seluruh dunia. Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, telah menjadi salah satu negara terkuat dalam mendukung ekonomi Islam terbesar ketiga di dunia, ditopang oleh berbagai perbaikan regulasi, infrastruktur, dan upaya pengembangan industri halal yang berkelanjutan. Penelitian ini mengkaji peran kemitraan multi-pemangku kepentingan dalam strategi pengembangan industri halal Indonesia melalui kreativitas dan inovasi. </em><em>Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode tinjauan literatur sistematis terhadap artikel ilmiah yang diterbitkan antara tahun 2017 hingga 2026 dan terindeks di Scopus. Proses seleksi literatur dilakukan menggunakan kerangka PRISMA, meliputi tiga tahap: identifikasi, skrining, dan evaluasi berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditetapkan.</em> <em>Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemitraan multi-pemangku kepentingan yang melibatkan pemerintah, sektor industri, akademisi, komunitas, lembaga keuangan syariah, dan badan sertifikasi halal memainkan peran penting dalam memperkuat ekosistem industri halal. Kolaborasi ini berkontribusi pada penguatan regulasi, inovasi produk halal, pengembangan sumber daya manusia, serta peningkatan akses pembiayaan yang mendukung pertumbuhan sektor kreatif halal.</em> <em>Penelitian ini memberikan wawasan strategis mengenai kerja sama inovasi industri halal dan menawarkan kerangka penguatan strategi pengembangan industri halal berbasis kreativitas, dengan implikasi praktis bagi para pembuat kebijakan, pelaku industri, dan akademisi yang terlibat dalam memajukan posisi Indonesia dalam ekonomi halal global.</em>]</p> Dewi Insyirahti Salsabilla Zohaib Hassan Sain Agus Susanto Copyright (c) 2026 Dewi Insyirahti Salsabilla, Zohaib Hassan Sain, Agus Susanto https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-06-07 2026-06-07 1 2 73 93 10.70742/aliqtishadwalmashlahah.v1i2.985 Peran Komunitas Kreatif dalam Mendorong Inovasi Produk Halal Era Digital di Jawa Tengah https://journal.abdurraufinstitute.org/index.php/iqtishadmashlahah/article/view/611 <p>The halal industry in Central Java faces adaptation challenges in the digital market, where many MSMEs still view halal certification merely as an administrative burden and lack visual communication strategies. Previous studies on the halal industry have been heavily dominated by normative regulatory and macro-managerial approaches, leaving a research gap regarding the specific role of creative communities in directly triggering halal product innovation. This study aims to identify and analyze the roles of creative communities (designers, application developers, and influencers) in driving halal product innovation and transforming sharia compliance values into a competitive advantage in the digital era. Employing a descriptive qualitative method, data were collected through a systematic literature review and short interviews with local creative practitioners, followed by thematic analysis. The findings indicate that creative communities act as vital catalysts: designers translate the value of <em>halalan thayyiban</em> into visual packaging identities and ethical fashion production; developers design inclusive digital infrastructures, such as alternative delivery applications; and influencers build social proof through organic promotional storytelling. Theoretically, this research contributes to Islamic digital economy literature by dissecting the practical operationalization of sharia principles by creative actors. Practically, this study provides a collaborative reference model for capacity building in halal MSME innovation.</p> <p>[<em>Industri halal di Jawa Tengah menghadapi tantangan adaptasi di pasar digital, di mana banyak UMKM masih menganggap sertifikasi halal sekadar beban administratif dan lemah dalam strategi komunikasi visual. Kajian terdahulu mengenai industri halal masih didominasi oleh pendekatan regulasi normatif dan manajerial makro, sehingga menyisakan kesenjangan penelitian (research gap) terkait bagaimana peran spesifik komunitas kreatif secara langsung memicu inovasi produk halal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis peran komunitas kreatif (desainer, pengembang aplikasi, dan influencer) dalam mendorong inovasi produk halal serta mentransformasikan nilai kepatuhan syariah menjadi keunggulan kompetitif di era digital. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur sistematis dan wawancara singkat dengan praktisi kreatif lokal, yang kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas kreatif bertindak sebagai katalisator vital: desainer menerjemahkan nilai halalan thayyiban ke dalam identitas visual kemasan dan etika produksi fesyen bermotif lokal; pengembang merancang infrastruktur digital inklusif seperti aplikasi pesan-antar alternatif; dan influencer membangun bukti sosial (social proof) melalui narasi promosi yang organik. Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi mengisi literatur ekonomi digital Islam dengan membedah operasionalisasi prinsip syariah oleh pelaku kreatif. Secara praktis, studi ini memberikan model rujukan kolaboratif bagi pengembangan kapasitas inovasi UMKM halal.</em><strong>]</strong></p> Kresna Mustika Kuat Ismanto Rizky Andrean Copyright (c) 2026 Kresna Mustika, Kuat Ismanto, Rizky Andrean https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-05-31 2026-05-31 1 2 94 109 10.70742/iqtishad.v1i2.611 Persepsi Konsumen Muslim Urban terhadap Strategi Pengembangan Produk Halal dalam Ekonomi Kreatif di Pekalongan https://journal.abdurraufinstitute.org/index.php/iqtishadmashlahah/article/view/990 <p>Penelitian ini mengeksplorasi persepsi konsumen muslim urban di Kota Pekalongan terhadap strategi pengembangan produk halal dalam ekosistem ekonomi kreatif. Masalah utama yang diangkat adalah adanya kesenjangan antara meningkatnya kesadaran religius konsumen (halal-conscious consumption) dengan tantangan teknis yang dihadapi UMKM dalam memenuhi Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH), khususnya pada penggunaan bahan penolong seperti lilin (malam) dan zat pewarna batik yang sering kali belum terverifikasi kehalalannya. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini membedah fenomena tersebut melalui kacamata Maqasid al-Shari’ah, yaitu hifz al-din (menjaga agama) dan hifz al-nafs (menjaga jiwa/kesehatan). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan triangulasi data untuk meminimalisir bias informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumen muslim urban menunjukkan antusiasme tinggi, di mana label halal telah bertransformasi dari sekadar kewajiban administratif menjadi standar kualitas hidup dan identitas sosial. Strategi pengembangan produk yang mengedepankan spiritual branding dan transparansi rantai pasok (halal supply chain) terbukti memberikan keamanan psikologis bagi konsumen. Temuan ini menegaskan bahwa sinergi antara kearifan lokal batik Pekalongan dengan kepatuhan syariah yang transparan menjadi keunggulan kompetitif yang memperkuat resiliensi ekonomi kreatif di wilayah perkotaan.</p> Ahmad Kodri Ali Muhtarom Alvita Tyas Dwi Aryani Copyright (c) 2026 Ahmad Kodri, Ali Muhtarom, Alvita Tyas Dwi Aryani https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-05-31 2026-05-31 1 2 110 127 10.70742/iqtishad.v1i2.990 Sustainability Strategies in the Halal Creative Industry: The Perspective of Convection MSMEs in Kedungwuni, Pekalongan https://journal.abdurraufinstitute.org/index.php/iqtishadmashlahah/article/view/994 <p>The increasing volatility of global markets requires Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) in the halal creative industry to develop sustainable business strategies that ensure resilience and long-term competitiveness. The integration of halal values into creative business models has emerged as a strategic approach to strengthening consumer trust and maintaining business sustainability amid economic uncertainty. This study aims to analyze the sustainability strategies implemented by MSMEs in the halal creative industry sector in Pekalongan, particularly within the Kedungwuni convection industry, in responding to global market fluctuations. The study also explores how halal principles are integrated into creative business practices to generate sustainable competitive advantages. This research employed a qualitative approach through systematic field observations conducted on ten leading creative MSMEs in the Kedungwuni convection cluster, Pekalongan. Observations focused on production processes, halal supply chain management, and market interactions to capture operational phenomena objectively. Data validity was ensured through methodological triangulation techniques. The findings reveal that the sustainability strategies of Kedungwuni convection MSMEs are primarily driven by the synergy between the utilization of environmentally friendly local raw materials and compliance with halal certification standards, which serve as mechanisms for enhancing consumer trust. Furthermore, MSMEs that adopted digital technologies in creative marketing demonstrated greater resilience to economic disruptions than those relying on conventional business practices.The study provides insights for policymakers in Pekalongan to formulate supportive regulations, including simplifying halal certification procedures and offering circular business management training for the creative sector. The research enriches the strategic management literature by highlighting the role of religious ethics and halal principles in fostering sustainable development within the people-centered economic ecosystem.</p> <p>[<em>Fluktuasi pasar global yang semakin dinamis menuntut pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pada sektor industri kreatif halal untuk menerapkan strategi keberlanjutan yang mampu meningkatkan daya saing dan ketahanan usaha. Integrasi nilai-nilai halal ke dalam model bisnis kreatif menjadi salah satu pendekatan strategis yang dapat memperkuat kepercayaan konsumen sekaligus mendukung keberlanjutan usaha dalam jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi keberlanjutan yang diimplementasikan oleh pelaku UMKM pada sektor industri kreatif halal di Pekalongan, khususnya UMKM konveksi di Kedungwuni, dalam menghadapi fluktuasi pasar global. Penelitian ini juga mengkaji bagaimana prinsip-prinsip halal diintegrasikan ke dalam praktik bisnis kreatif guna menciptakan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi lapangan yang sistematis terhadap sepuluh UMKM kreatif unggulan pada sektor konveksi di Kedungwuni Pekalongan. Observasi difokuskan pada proses produksi, manajemen rantai pasok halal, dan interaksi pasar untuk memperoleh gambaran objektif mengenai fenomena operasional yang terjadi. Keabsahan data dijamin melalui teknik triangulasi metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi keberlanjutan UMKM konveksi di Kedungwuni Pekalongan bertumpu pada sinergi antara pemanfaatan bahan baku lokal yang ramah lingkungan dan kepatuhan terhadap standar sertifikasi halal sebagai instrumen untuk membangun kepercayaan konsumen. Selain itu, UMKM yang mengadopsi teknologi digital dalam pemasaran kreatif memiliki tingkat ketahanan yang lebih tinggi terhadap guncangan ekonomi dibandingkan dengan usaha yang masih dikelola secara konvensional. </em><em>P</em><em>enelitian ini memberikan rekomendasi bagi pemerintah daerah dan pemangku kebijakan untuk merumuskan regulasi yang mendukung pengembangan industri kreatif halal, seperti penyederhanaan akses sertifikasi halal dan penyelenggaraan pelatihan manajemen bisnis berbasis ekonomi sirkular. Secara teoretis, penelitian ini memperkuat literatur manajemen strategi dengan menunjukkan bahwa etika religius dan prinsip halal dapat menjadi fondasi penting dalam membangun keberlanjutan usaha pada ekosistem ekonomi kerakyatan.</em>]</p> Novi Murtaziq Ali Muhtarom Copyright (c) 2026 Novi Murtaziq, Ali Muhtarom https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-05-31 2026-05-31 1 2 128 139 10.70742/iqtishad.v1i2.994 Model Pengembangan Strategi Diferensiasi Produk Halal pada Klaster Ekonomi Kreatif ATBM Pekalongan https://journal.abdurraufinstitute.org/index.php/iqtishadmashlahah/article/view/995 <p>This research is based on the alignment of product differentiation strategies for halal product categories and types by integrating Islamic economic principles with Artificial Intelligence (AI) technology. It aims to develop a Halal Product Differentiation Strategy Model within the creative economy cluster of Pekalongan, specifically focusing on Handloom Weaving (<em>Alat Tenun Bukan Mesin</em> / ATBM) through the integration of modern AI technology. This integration has become imperative due to rising demands for transparency in global supply chains, whereas traditional manual certification methods are lagging and increasingly require replacement by "digital authenticity." To ensure that traditional creative economy clusters do not lose their role within the Halal Industry 4.0—which demands high-level traceability—it is highly probable that despite their low level of embedded technology, balancing halal standardization will enable them to contribute more effectively to a creative economy that might otherwise lose its relevance. This study employs a descriptive qualitative approach utilizing the Research and Development (R&amp;D) method. Data were gathered through in-depth observations and interviews with ATBM MSMEs in Pekalongan, technology design experts, and Sharia experts (Halal Auditors). The collected data were systematically followed up using field-suitability techniques. Based on the research findings, it can be concluded that product differentiation strategies for halal ATBM products can be successfully implemented through technology. Its role is highly critical in ensuring a sustainable halal system without disrupting or replacing the manual weaving process. In this manner, even though the management and designs are modernized, the spirit and craftsmanship integrity of ATBM can be fully preserved and reflected. This model offers a strategic pathway for local artisans to transform cultural heritage products into premium, highly competitive commodities. This study reinforces that the primary challenge lies in seamlessly integrating digital technology with Halal values to cultivate a sustainable competitive advantage in the global market.</p> <p>[Penelitian<em> ini didasarkan pada kesamaan strategi diferensiasi produk untuk kategori dan tipe produk halal dengan mengintegrasikan prinsip ekonomi Islam dengan teknologi kecerdasan buatan Artificial Intelligence (AI) guna mengembangkan Model Strategi Diferensiasi Produk Halal di klaster ekonomi kreatif Pekalongan, khususnya untuk Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) dengan mengintegrasikan teknologi modern (AI). Integrasi ini menjadi keharusan karena meningkatnya tuntutan transparansi pada rantai pasok global, sementara sertifikasi tradisional yang dilakukan secara manual, mulai tertinggal karena memerlukan penggantian dengan “keaslian digital.” Jika industri halal 4.0, yang menuntut ketelurusuran tingkat tinggi atas produk halal yang terus menegaskan agar klaster ekonomi kreatif tradisional tidak kehilangan perannya, maka kemungkinan besar dengan tingkat teknologi yang rendah di dalamnya, serta tetap menyeimbangkan standarisasi halal, mereka dapat lebih berkontribusi pada ekonomi kreatif yang kehilangan relevansinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode R&amp;D (Research and Development). Data dikumpulkan melalui observasi mendalam, wawancara dengan para UMKM ATBM di Pekalongan, dan ahli desain teknologi serta pakar syariah (Auditor Halal). Data ini ditindaklanjuti secara sistematis dengan teknik kesesuaian lapangan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa strategi diferensiasi pada produk halal di industri ATBM dapat diterapkan melalui teknologi, yang perannya sangat penting untuk memastikan sistem halal yang berkelanjutan tanpa mengganggu atau bahkan menggantikan proses menenun secara manual. Dengan cara ini, meskipun manajemen dan desainnya modern, semangat dan integritas kerajinan ATBM benar-benar dapat tercermin. Model ini menawarkan jalan strategis bagi para perajin lokal untuk mengubah produk warisan budaya menjadi barang dengan komoditas yang premium dan kompetitif. Penelitian ini menegaskan bahwa tantangannya terletak pada integrasi teknologi digital dengan nilai-nilai Halal, sehingga dapat menciptakan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan di pasar global..]</em></p> <p> </p> Muhammad Ghoitsun Nada Muhammad Agil Ananius Donatus D Rure Copyright (c) 2026 Muhammad Ghoitsun Nada, Muhammad Agil, Ananius Donatus D Rure https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-05-31 2026-05-31 1 2 140 151 10.70742/iqtishad.v1i2.995