Pengembangan Kapasitas Aparatur Gampong terkait Penyelesaian Perkara melalui Peradilan Adat
DOI:
https://doi.org/10.70742/ajcos.v2i2.459Keywords:
Aparatur gampong, mediasi adat, penyelesaian sengketa, peradilan adatAbstract
This community service program was carried out to strengthen the capacity of Lam Lumpu Village officials in resolving disputes through customary justice, which has long been the main mechanism for maintaining social harmony. The identified issues include limited understanding of the legal foundations regulated in the qanun and national legislation, case resolution procedures, mediation techniques, and weaknesses in systematically preparing case documents. Through participatory training, field observations, and intensive mentoring, the program focused on improving the technical skills and professional conduct of village officials in handling various types of customary disputes. The results of the program show a significant improvement in the understanding of customary law as regulated in the Qanun, as well as in the ability to apply mediation techniques supported by effective communication, thereby providing better solutions for the community.
[Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan untuk memperkuat kapasitas aparatur Gampong Lam Lumpu dalam penyelesaian sengketa melalui peradilan adat yang selama ini menjadi mekanisme utama dalam menjaga keharmonisan masyarakat. Permasalahan yang diidentifikasi yaitu pemahaman terhadap dasar hukum yang diatur dalam qanun dan peraturan perundang-undangan, prosedur penyelesaian perkara, teknik mediasi, serta lemahnya kemampuan dalam menyusun dokumen perkara secara sistematis. Melalui pendekatan pelatihan partisipatif, observasi lapangan, pendampingan intensif, kegiatan ini difokuskan pada peningkatan keterampilan teknis dan sikap profesional aparatur dalam menangani berbagai bentuk sengketa adat. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada aspek pemahaman hukum adat yang diatur dalam Qanun, kemampuan menerapkan teknik mediasi berbasis komunikasi efektif sehingga memberikan solusi yang terbaik bagi masyarakat.]
Downloads
References
Ali, Z. (2021). Metode Penelitian Hukum. Sinar Grafika,.
Amalia, N., Mukhlis, & Yusrizal. (2018). Model Penyelesaian Sengketa dan Peradilan Adat di Aceh. Ius Quia Iustum, 25(1), 159–179. https://doi.org/10.20885/iustum.vol25.iss1.art8
Amdani, Y. (2016). Konsep Restorative Justice Dalam Penyelesaian Perkara Tindak Pidana Pencurian Oleh Anak Berbasis Hukum Islam Dan Adat Aceh. Probation Journal, 13(1), 64–65. http://ejournal.radenintan.ac.id/index.php/adalah/article/viewFile/1130/931
Husin, T., Jurnal, K., & Hukum, I. (2015). Penyelesaian Sengketa/Perselisihan Secara Adat Gampong di Aceh Taqwaddin Husin Kanun Jurnal Ilmu Hukum No. 67, Th. XVII (Desember, 2015), pp. 511-532. 67, 511–532.
Mandala, Mersy Junedy, Aksi Sinurat, and O. G. M. (2023). Implementasi Prinsip Keadilan Restoratif pada Perkara Tindak Pidana Korupsi. Jurnal Cahaya Mandalika, 3(2), 851–863.
Mansari. (2016). Pelaksanaan Diversi terhadap ABH Berdasarkan Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2008 tentang Perlindungan Anak. Gender Equality: International Journal of Child and Gender Studies, 2(1), 51–62.
Mansari. (2018a). Peran Tuha Peut dalam Pengembangan Reusam Perlindungan Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH) di Aceh Besar. SIMULACRA, 1(1), 79–90.
Mansari, M. (2018b). Partisipasi Perempuan Dalam Penyusunan Reusam Perlindungan Anak Di Tingkat Gampong Di Aceh Besar. Muwazah, 10(2), 81–95. https://doi.org/10.28918/muwazah.v10i2.1780
Muksalmina, & Sari, E. (2019). KEKUATAN PUTUSAN PERADILAN ADAT DI ACEH. Suloh: Jurnal Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh, 11(11), 547–553.
Musrizal, Bahri, S., & Maisarah. (2020). Jurnal Peurawi?: Media Kajian Komunikasi Islam. Jurnal Peurawi: Media Kajian Komunikasi Islam, 3(2), 72–94.
Novriansyah, M., & Jeumpa, I. K. (2017). Peradilan Adat ( Suatu Penelitian di Wilayah Hukum Polsek Sakti Kabupaten Pidie ) PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu Negara yang kerap sekali terjadi tindak pidana salah satunya tindak pidana penganiayaan , baik penganiayaan berat maupun ringan . Jurnal Ilmiah Mahasiswa, 1(November), 200–212.
Nurdin, A. (2013). Revitalisasi Kearifan Lokal di Aceh: Peran Budaya dalam Menyelesaikan Konflik Masyarakat. Analisis, XIII(1), 135–154.
Ridha, M. (2017). Peumat Jaroe: Proses Mediasi Menuju Harmoni dalam Masyarakat Aceh. Lhee Sagoe Press.
Sahara, S., Natsir, M., & Yusuf, D. (2024). Sosio-Kultural dalam Masyarakat Aceh?: Strategi Perlindungan Hukum bagi Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga Socio-Cultural Legitimacy in Acehnese Society?: Providing Legal Protection for Domestic Violence Victims Legitimasi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh. 7(2), 434–446. https://doi.org/10.58824/mediasas.v7i2.185
Sumardi, D., Mansari, & Albaba, M. F. (2022). Restoratif Justice, Diversi dan Peradilan Anak Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 110/Puu-X/2012. Legitimasi: Jurnal Hukum Pidana Dan Politik Hukum, 11(2), 248–265. https://doi.org/10.23373/legitimasi.v11i2.16010
Ulya, Z., & Suriyani, M. (2023). Re-Strukturisasi Kelembagaan Panglima Laot sebagai Hakim Peradilan Adat Laot di Aceh. Jurnal Rechts Vinding: Media Pembinaan Hukum Nasional, 12(3), 443–458.
Zainuddin, M. (2017). Media Syari ’ Ah. Media Syari’ah, 19(2), 319–355. http://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/medsyar/article/view/2025/1501
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Mansari Mansari, Rizkal Rizkal, Erha Saufan Hadana, Via Nurjannah, Irwansyah Irwansyah, Lukman Hakim, Muhammad Haikal, Ruslaini Ruslaini, Muhammad Isa, Rahmad Hidayat

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.




