Pendampingan Internalisasi Nilai Kewirausahaan Kreatif melalui Teaching Factory pada Siswa SMK Negeri 2 Pekalongan

Authors

  • Nafila Tri Afriza UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan
  • Hendri Hermawan Adinugraha UIN K.H. Abdurrahaman Wahid Pekalongan
  • Ahmad Anas UIN Walisongo Semarang

DOI:

https://doi.org/10.70742/ajcos.v3i1.1003

Keywords:

teaching factory, vocational education, entrepreneurship education, experiential learning, entrepreneurial competence, vocational students

Abstract

The changing world of work and the growth of the creative economy require vocational high school graduates to possess not only technical skills but also creativity, independence, responsibility, adaptability, and an entrepreneurial mindset. The main challenge faced by the partner, SMK Negeri 2 Pekalongan, is not the lack of practice facilities but the limited optimization of Swalayan SAKPORE as a teaching factory for internalizing creative entrepreneurial values through authentic business experiences. This community service program aimed to strengthen students’ internalization of creative entrepreneurial values by optimizing Swalayan SAKPORE as an experience-based entrepreneurship laboratory. The program employed an experiential learning approach through five stages: needs identification, training, business practice, mentoring and monitoring, and evaluation and sustainability. Students were directly involved in inventory management, product display, customer service, marketing, product development, and business decision-making, while teachers and the community service team acted as mentors and facilitators. The results indicate that students’ involvement in authentic business activities provided opportunities to develop creativity through product development and promotional strategies, independence in taking initiatives, responsibility for assigned tasks, discipline in following operational procedures, and adaptability in responding to business problems and changing situations. The process also demonstrated a shift in students’ involvement from merely performing operational tasks toward more active participation in generating ideas, implementing initiatives, and evaluating business activities. The main contribution of this program is the strengthening of the teaching factory function from a conventional vocational retail practice environment into an entrepreneurship laboratory that integrates authentic business experience, reflection, idea development, implementation, evaluation, and innovation. This cyclical model provides a practical mentoring framework that can potentially be adapted to other teaching factory settings in vocational schools according to their business characteristics and students’ learning needs.

[Perubahan dunia kerja dan perkembangan ekonomi kreatif menuntut lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tidak hanya menguasai keterampilan teknis, tetapi juga memiliki kreativitas, kemandirian, tanggung jawab, kemampuan beradaptasi, dan pola pikir kewirausahaan. Permasalahan yang dihadapi mitra, SMK Negeri 2 Pekalongan, bukan terletak pada keterbatasan sarana praktik, tetapi pada belum optimalnya pemanfaatan Swalayan SAKPORE sebagai teaching factory untuk menginternalisasikan nilai kewirausahaan kreatif melalui pengalaman bisnis yang nyata. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memperkuat internalisasi nilai kewirausahaan kreatif siswa melalui optimalisasi Swalayan SAKPORE sebagai laboratorium kewirausahaan berbasis pengalaman. Metode pengabdian menggunakan pendekatan experiential learning melalui lima tahapan, yaitu identifikasi kebutuhan, pelatihan, praktik bisnis, pendampingan dan monitoring, serta evaluasi dan keberlanjutan. Peserta terlibat langsung dalam pengelolaan stok, penataan display, pelayanan konsumen, pemasaran, pengembangan produk, dan pengambilan keputusan bisnis, dengan guru dan tim pengabdi berperan sebagai pendamping dan fasilitator. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa keterlibatan dalam aktivitas bisnis nyata memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas melalui pengembangan produk dan strategi promosi, kemandirian dalam mengambil inisiatif, tanggung jawab terhadap tugas, disiplin dalam menjalankan prosedur, serta kemampuan beradaptasi terhadap persoalan dan perubahan situasi usaha. Proses tersebut menunjukkan pergeseran aktivitas siswa dari sekadar menjalankan tugas operasional menuju keterlibatan yang lebih aktif dalam menghasilkan ide, mengimplementasikan gagasan, dan melakukan evaluasi. Kontribusi utama kegiatan ini adalah penguatan fungsi teaching factory dari sekadar lingkungan praktik kompetensi ritel menjadi laboratorium kewirausahaan yang mengintegrasikan pengalaman bisnis, refleksi, pengembangan ide, implementasi, evaluasi, dan inovasi. Model siklus tersebut memberikan kerangka pendampingan yang berpotensi diterapkan pada unit teaching factory di sekolah vokasional lain dengan menyesuaikan karakteristik usaha dan kebutuhan peserta didik.]

Downloads

Download data is not yet available.

References

Agoi, M. A., Agoi, A. E., & Syakirunni, L. (2026). Decentralized Finance , Smart Contracts , and Financial Stability in Nigeria ’ s Halal Industry. 1(1), 56–71.

Asmawi, M., & Lutfiadi, A. (2026). Challenges Implementing Indonesia ’ s Halal Product Guarantee Law for MSMEs?: Legal Readiness Review. 1(1), 125–142.

Cliffs, E. (2006). Experiential learning?: experience as the source of learning and development. 1984.

Dasan, J. N. dkk. (2025). PEMBELAJARAN KEWIRAUSAHAAN MAHASISWA MANAJEMEN. 19, 1572–1579.

Haq, A. Al. (2026). Survival and Adaptation Strategies of Small Industries to Meet HAS 23000 Standards. 1(1), 1–14.

Howkins, J. (2001). The Creative Economy: How People Make Money from Ideas. Penguin Books.

Ma, A. (2025). Teknik Pengumpulan Data Pada Penelitian Kualitatif. 7(2), 99–109.

Mahardini, H. dan N. A. R. (2023). Santri Creativepreneur Sebagai Alternatif Model Implementasi Sosio – Ekonomi Untuk Pemerataan Pembangunan Ekonomi Di Jawa Timur. 01(02), 44–63.

Maulana, A. S., Anas, A., & Izza, M. (2026). Legal Certainty within Indonesia ’ s Halal Industry Regulatory Framework. 1(1), 88–101. https://doi.org/10.28918/jhc.v1i1.14502

Miles, M. B., & Huberman, A. M. (2014). Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook. Sage Publications.

Nasrudin, M. (2026). Navigating Barriers to Self-Declared Halal Certification among Culinary MSMEs in Banten. 1(1), 43–55. https://doi.org/10.28918/jhc.v1i1.14306

Purwaningsih, S. N., & Lawal, U. S. (2026). Students ’ Understanding of Halal Symbols and Their Impact on Halal Food Consumption. 1(1), 15–29. https://doi.org/10.28918/9kq52e08

Sartika, M., Isthika, W., & Kinasih, H. W. (2026). Human Resource Management in Sharia Accounting Reporting Within Indonesia ’ s Halal Industry?: A Literature Review. 1(1), 102–114.

Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabeta.

Sunarto, R. dan. (2025). Internalisasi Nilai-Nilai Tradisi Raju pada Remaja di Desa Mbawa Kecamatan Donggo Kabupaten Bima Internalization of the Values of the Raju Tradition among Adolescents in Mbawa Village , Donggo District , Bima Regency. 6(4).

Tasim, C. (2023). Mengenal Contoh Opportunities dalam SWOT yang Efektif untuk Branding Produk.

Ummah, M. S. (2019). Analisis SWOT pada Saqinah Swalayan di Kota Langsa. Sustainability (Switzerland), 11(1), 1–14. http://scioteca.caf.com/bitstream/handle/123456789/1091/RED2017-Eng-8ene.pdf?sequence=12&isAllowed=y%0Ahttp://dx.doi.org/10.1016/j.regsciurbeco.2008.06.005%0Ahttps://www.researchgate.net/publication/305320484_SISTEM_PEMBETUNGAN_TERPUSAT_STRATEGI_MELESTARI

Wulandari, H. T., & Marukh, T. (2026). Strategy to Implement Halal Certification for Pharmaceutical Manufacturing in Indonesia Kohat University of Science and Technology ( KUST ), Pakistan General Conditions in Indonesia companies animal ingredients Halal certification obligations certification costs. 1(1), 30–42. https://doi.org/10.28918/jhc.v1i1.14164

Downloads

Published

2026-08-12

How to Cite

Afriza, N. T., Adinugraha, H. H. ., & Anas, A. . (2026). Pendampingan Internalisasi Nilai Kewirausahaan Kreatif melalui Teaching Factory pada Siswa SMK Negeri 2 Pekalongan. Abdurrauf Journal of Community Service, 3(1), 54–75. https://doi.org/10.70742/ajcos.v3i1.1003